Pesantren Kesayangan ku

Pesantren Kesayangan ku
PONDOK PESANTREN BAITUL MAGHFIROH

IQRO

Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Psikologi Individual Depresi dan Reformasi Diri

Depresi
Apa yang menyebabkan kita sampai menderita depresi? Sejauh depresi itu diartikan sebagai sebuah kondisi batin yang tertekan dalam waktu panjang (stress berkelanjutan) dan mengakibatkan hilangnya harapan hidup, makna hidup, motivasi berprestasi, dan kepercayaan-diri (losing mood and confidence), tentu saja sebab-sebabnya banyak. Namanya juga orang hidup. Realitas kehidupan ini terkadang lebih kejam dari kekejaman yang sanggup kita bayangkan.
Secara garis besar kita bisa mengatakan bahwa depresi bisa terjadi di "stimulasi" oleh keadaan eksternal yang berubah ke arah yang lebih buruk dan itu di luar kontrol kita. Mengapa di “stimulasi” ? Perlu digarisbawahi di sini, bahwa kondisi emosi - psikologis masing-masing orang turut menentukan apakah sesuatu itu dapat menyebabkan depresi, sejauh mana tingkat depresinya serta seberapa besar kemampuan orang itu untuk mengatasi masalah (hingga tidak sampai depresi) - atau, seberapa besar kemampuan orang itu untuk mengatasi depresinya.
Katakanlah di sini misalnya kematian orang-orang tercinta atau bencana alam yang menyisakan kenangan-kenangan traumatik. Bila ini berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi dan menyebabkan kita kehilangan mood, kehilangan gairah untuk melangkah, kehilangan kepercayaan diri, maka trauma itu berubah menjadi depresi. Kita kehilangan daya tarik untuk menjadikan hidup kita menjadi lebih hidup dan kehilangan semangat untuk menjalankan aktivitas positif.
Depresi juga bisa muncul akibat perlakuan orang lain yang buruk pada kita. Seorang karyawan akan merasa tertekan apabila mendapati kondisi kerja dan gaya manajemen di tempat kerja yang menekan (stressful). Jika dia sudah berusaha untuk mencari pekerjaan lain ke mana-mana namun belum mendapatkan dan ditambah lagi dengan cara yang tidak kreatif dalam menghadapi realitas semacam itu, mungkin saja si karyawan itu akan terkena depresi. Depresi bisa tumbuh dari stress kerja yang berlangsung lama.
Depresi bisa juga terjadi pada seseorang setelah dianiaya orang lain, misalnya pemerkosaan atau kekerasan rumah tangga. Peristiwa buruk itu akan membuka kemungkinan terhadap depresi. Atau juga bisa terjadi pada orang yang sehabis terkena kebijakan PHK. Kehilangan pekerjaan dapat membuat kita stress (kehilangan status, kehilangan sumber penghasilan, dst) dan bila kita sudah mencari pengganti pekerjaan itu kemana-mana dan ternyata belum membuahkan hasil, stress itu akan berubah menjadi depresi. Depresi di sini adalah tekanan batin yang serius ditandai dengan kesedihan dan kekosongan (feeelings of sadness or emptiness).
Depresi juga muncul karena ulah kita sendiri. Ulah di sini ada yang berbentuk penyimpangan / pelanggaran atau ada yang berbentuk pengabaian. Hampir seluruh tindak penyimpangan atau pelanggaran atas apa yang benar di dunia ini dalam skala / ukuran yang besar, umumnya akan melahirkan konsekuensi yang "uncontrollable". Bila konsekuensi buruk itu terjadi dan merembet kemana-mana dan semuanya menjadi pilihan buruk buat kita, ini juga bisa menimbulkan depresi. Karena itu banyak penderita NAPZA yang berkesimpulan bahwa kesembuhannya itu berkat mukjizat. Ini karena sedemikian sulitnya membayangkan bagaiman melepaskan diri dari ketergantungan dan dari konsekuensi buruk lainnya yang terkait dengan itu.
Demikian juga dengan pengabaian. Pengabaian terhadap diri sendiri, misalnya punya potensi tetapi tidak dikembangkan, punya pekerjaan tetapi tidak disyukuri (dijadikan lahan untuk meningkatkan diri), punya resource tetapi tidak digunakan, dan lain-lain, ini juga bisa menimbulkan depresi. Jadi, bukan pengabaiannya yang menyebabkan depresi tetapi konsekuensi pengabaian itulah yang membuat orang menjadi depresi. Kita mulai merasa tidak ada artinya bagi diri sendiri dan orang lain. Ketika perasaan ini terus menggunung, ya lama kelamaan akan menimbulkan depresi. Karena itu ada pendapat ahli yang menyatakan bahwa depresi bisa saja terjadi tanpa harus didahului peristiwa buruk yang tragis dan dramatik. Problem personal yang kecil-kecil namun diabaikan bisa saja akan mengundang depresi..

Hindari Tujuh Hal

Meski kita ingin segera dapat mengatasi depresi, tetapi tak jarang kita malah mempraktekkan hal-hal yang memperparah depresi itu. Ini antara lain bisa dijabarkan sebagai berikut:

  1. Hanya mencari-cari tip, saran atau tehnik yang jitu untuk mengatasi depresi. Tip dari buku, saran dan tehnik dari orang lain itu sangat kita butuhkan tetapi posisinya di sini bukan sebagai penentu, melainkan sebagai pembantu (bantuan. Kita membutuhkan semua itu tetapi tidak boleh mengandalkan pada semuanya. Artinya, tip dan saran itu akan berguna ketika kita dalam keadaan sedang berusaha untuk mengatasi depresi dan tidak berguna kalau kita duduk dan diam saja.
  2. Tidak percaya, menolak atau skeptis terhadap saran, pendapat atau bantuan orang lain. Ini adalah bentuk padanan yang ekstrim dari yang pertama. Menutup diri, menutup-nutupi, melecehkan semua orang atau menjauhi orang kerapkali justru akan membuat kita semakin ‘depressed’ dengan keadaan kita.
  3. Hanya menyalahkan keadaan atau orang. Mungkin saja yang membuat kita depresi itu adalah dunia ini yang telalu kejam atau orang lain. Tetapi akan malah berbahaya kalau yang kita ingat dan yang kita lakukan adalah hanya mengutuk dunia dan mengutuk orang lain. Harus ada inisiatif dari dalam diri kita untuk mengobati diri sendiri.
  4. Kurang kreatif dalam menemukan cara atau terlalu "taat" pada rutinitas yang biasa-biasa. Ini juga bisa membuat depresi itu makin mendalam. Ada saran agar kita membagi aktivitas menjadi tiga:
    • aktivitas positif yang wajib
    • aktivitas yang untuk fun atau pleasurable, dan
    • aktivitas yang untuk menabur kebajikan pada orang lain seperti membantu atau menyambung hubungan.
  5. Membiarkan munculnya definisi diri negatif, misalnya saja: saya sudah tidak punya apa-apa lagi, saya muak melihat diri saya, hidup saya sudah hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi, dan seterusnya. Ini adalah definisi atau kesimpulan atau label tentang diri sendiri yang kita buat sendiri. Jika ini terus berlanjut akan mempersulit upaya recovery.
  6. Menolak realitas dengan cara yang merugikan. Realitas itu kalau ditolak dengan tujuan menolak yang asal menolak (denial), ini akan memperparah pertengkaran yang membuat depresi itu makin mencengkeram. Tetapi bila kita terima dengan pasrah dan kalah (larut dan hanyut), ini juga tidak menyembuhkan. Yang diharapkan adalah menerima untuk memperbaiki. Seperti yang ditulis Dr. Felice Leonardo Buscaglia, "Trauma yang abadi di adalah penderitaan yang tidak diikuti dengan perbaikan".
  7. Menganut paham perfeksionis yang tidak rasional. Dari pengalaman sejumlah ahli dalam menangai penderita depresi, konon yang menghambat upaya recovery adalah ketika seseorang berpikir bahwa dia harus bebas dari depresi seketika itu dan langsung, tidak usah repot-repot. Mengatasi depresi butuh proses yang berkelanjutan, dan jika kita menolak proses itu bukan malah cepat tetapi malah semakin lama.

Tujuh hal di atas dapat kita gunakan untuk menjelaskan realitas di mana ada orang yang semakin buruk langkahnya, makin buruk hubungannya dan makin buruk caranya dalam menghadapi hidup saat depresi. Anda mungkin punya teman, keluarga atau tetangga yang malah semakin tertutup, semakin tidak persuasif, semakin tidak bijak, semakin sempit, semakin tertutup dan sejumlah "semakin" yang negatif lainnya.

Tetapi ada juga sekelompok orang yang mulai menunjukkan bukti-bukti perbaikan diri, perbaikan hubungan dan perbaikan cara dalam menghadapi realitas. Semakin jelas langkah yang ditempuh, semakin open dan bijak, semakin bisa memilih orang, semakin ramah, semakin soleh hidupnya, dan seterusnya. Sebisa mungkin kita perlu berjuang untuk menjadi manusia kelompok kedua.

Agenda Reformasi

Secara umum, agenda reformasi itu bisa kita buat berdasarkan poin-poin berikut ini:

1. Membangun citra diri positif

Citra diri berasal dari bagaimana kita menyimpulkan diri sendiri atau beropini tentang diri sendiri. Yang positif membuahkan citra positif. Untuk membangun yang positif ini diperlukan tiga hal:
  • Anda perlu menciptkan definisi, opini atau kesimpulan yang positif
  • Anda perlu melawan munculnya opini, definisi atau kesimpulan negatif dengan cara menghentikan, mengganti atau membatalkan
  • Anda perlu menciptakan alasan-alasan faktual, bukti nyata untuk mendukung kesimpulan positif yang Anda ciptakan

Sedikit tentang alasan faktual itu, saya ingin memberi contoh misalnya saja Anda berkesimpulan bahwa hidup Anda memang masih bermakna (untuk diri sendiri dan untuk orang lain). Kesimpulan ini lebih positif ketimbang Anda punya kesimpulan yang sebaliknya. Tetapi jika yang Anda lakukan hanya sebatas merasa atau menyimpulkan (tanpa diiringi dengan perbuatan dan hasil atau pembuktian bertahap), lama kelamaan kesimpulan Anda ini akan kalah oleh fakta yang ada tentang diri Anda. Jangan pernah berpikir bahwa perbaikan diri itu bisa ditempuh dengan cara tidak melakukan sesuatu. Forget it.

2. Menjalankan agenda perbaikan berkelanjutan yang realistis
Kesalahan kita saat terkena depresi adalah: kita hanya merasakan bagaimana depresi itu tetapi kurang berpikir tentang apa saja yang masih bisa kita lakukan untuk memperbaiki diri di masa depan. Kita tenggelam ke dalam masa lalu yang buruk dan lupa meng-imajinasi-kan masa depan yang lebih bagus. Padahal, masa lalu itu sudah tidak bisa diubah. Padahal, masa depan itu masih "open" buat kita. Agar ini tidak terjadi, Anda boleh memilih agenda perbaikan di bawah ini:
  • Anda merencanakan program atau jadwal tentang apa yang perlu anda lakukan dan apa yang perlu Anda hindari agar hidup Anda menjadi lebih bagus di hari esok berdasarkan keadaan Anda.
  • Anda mencanangkan target yang benar-benar ingin Anda raih sebagai bukti adanya perbaikan dalam diri Anda, misalnya mendapatkan pekerjaan, mendapatkan orang yang lebih bagus, mendapatkan tempat yang lebih bagus, dan seterusnya.
  • Anda merumuskan tujuan jangka pendek atau panjang yang ingin Anda wujudkan, seperti misalnya menyelesaikan kuliah, meningkatkan penguasaan bidang, menambah pengetahuan atau skill, dan lain-lain

Tiga hal di atas perlu dilakukan dengan catatan harus realistis: bisa dilakukan dari mulai hari ini, dengan menggunakan sumber daya yang sudah ada, dan dari lokasi hidup di mana Anda saat ini berada. Hindari membuat program atau target yang “mengkhayal” atau hanya berfantasi atau terlalu tinggi sehingga tidak bisa dilakukan dan tidak bisa diraih.

3. Menggunakan ketidakpuasan
Saat depresi, pasti kita tidak puas dengan hidup kita. Ini bisa positif dan bisa negatif, tergantung bagaimana kita menggunakan. Bagaimana supaya bisa positif? Salah satu caranya adalah dengan menggunakan ketidakpuasan itu sebagai dorongan / motivasi unntuk melakukan sesuatu (menjalankan program, meraih target atau tujuan). Anda bisa menggunakan ketidakpuasan atas masa lalu dan hari ini sebagai pemacu untuk memperbaiki atau mengubah hari esok. Jika PHK telah membuat Anda depresi, jadikan itu sebagai motivasi untuk memperluas jaringan, memperbaiki skill, membangun karakter yang lebih positif, dan seterusnya. Ini jauh lebih positif ketimbang kita hanya merasakan depresi, mengasihani diri sendiri dan menyalahkan orang lain.
4. Memperbaiki / memperluas hubungan
Wilayah hubungan yang perlu diperbaiki adalah:
  • hubungan dengan diri sendiri: control diri, meditasi, dialog diri, dll.
  • hubungan dengan orang lain dan
  • hubungan dengan Tuhan (meningkatkan iman).
Memperbaiki hubungan dengan diri sendiri akan membuat kita cepat mengontrol atau menarik diri dari keadaan yang tidak menguntungkan kita. Kalau kita sadar bahwa kita sedang depresi dan sadar bahwa kita harus segera mengambil tindakan, tentunya ini akan beda persoalannya.
Memperbaiki hubungan dengan manusia akan membantu usaha yang kita lakukan dalam mengatasi depresi. Kita tetap harus ingat bahwa manusia itu bisa digolongkan menjadi dua:
  • ada manusia yang menjadi sumber depresi buat kita, dan
  • ada manusia yang menjadi bantuan solusi atas depresi.
Yang kita butuhkan (sebanyak-banyaknya) adalah manusia kelompok kedua. Jangan sampai kita menjauhi semua manusia, trauma kepada semua manusia, atau tidak percaya pada semua manusia.
Bagaimana memperbaiki hubungan dengan Tuhan? Ada banyak cara untuk memperbaikinya, antara lain:
  • meningkatkan iman
  • menjalankan ajaran agama yang kita pilih (formal dan non-formal) sampai benar-benar kita merasa dan meyakini ada semacam “kebersamaan”. Kebersamaan di sini bukan kebersamaan yang "halusinasi" (tidak berdasar dan tidak berefek), tetapi kebersamaan yang mendorong kita untuk melakukan hal positif dan menghindari hal negatif. Kebersamaan seperti ini akan memperkuat dan mencerahkan.

5. Mengganti paham "perfection" menjadi "excellence"

Dengan bahasa yang sederhana dapat dijelaskan bahwa perfection adalah menuntut kesempurnaan (dari orang lain, dari diri sendiri dan dari dunia ini). Sementara, excellence adalah mengusahakan kesempurnaan secara bertahap, perbaikan berkelanjutan. Perfection lebih dekat pada keyakinan yang tidak rasional. Keyakinan seperti ini lebih mudah terkena depresi pada saat kita ingin mengatasi depresi, misalnya saja kita tidak mau gagal lagi (kemungkinan untuk gagal itu selalu ada), kita anti toleransi terhadap kelemahan orang lain (semua orang punya kelemahan), dan seterusnya.
Menurut Susan Dunn, MA, (When Perfect Isn't Good Enough, www.selfgrowth.com, perfeksionis dapat mengakibatkan hal-hal buruk yang antara lain adalah:
  • dapat mengantarkan kita pada isolasi diri
  • dapat mengantarkan kita menjadi orang yang takut menghadapi resiko hidup
  • dapat mengantarkan kita pada kesulitan dalam membuat keputusan atau sasaran hidup yang tepat
  • dapat mengantarkan kita pada kesalahan dalam menilai diri (overestimate)
  • dapat mengantarkan kita menjadi orang kerdil yang sulit mempercayai orang lain.

Psikologi Individual Antara Sebab & Akibat


Bagian dari pasal Hukum Alam ini berbunyi kurnag lebih sebagai berikut: "Semua peristiwa diciptakan oleh penyebab (the cause) atau kalau dibalik: "peristiwa hanyalah hasil/ akibat (effect)". Sampai pada pengertian ini tidak ada yang merasa sulit memahaminya. Tetapi ketika dikaitkan dengan diri kita dan realita hidup yang kita terima, barulah menjadi persoalan tersendiri. Konon Mark Victor Hansen, pengarang buku berseri Chicken Soap for the Soul harus memutar pertanyaan antara "Are you the cause or the effect?" sebanyak 287 (dua ratus delapan puluh tujuh) kali untuk memastikan pilihan setelah mengalami kebangkrutan bisnis secara total yang memaksanya hidup menggelandang. Ia akhirnya memilih bahwa semua peristiwa hidup (realita) adalah "effect" dan dirinyalah "the cause" itu. Karena Mark yakin bahwa masih banyak individu yang berpikir sebaliknya, maka ia menuangkan pikiran-pikirannya dalam buku tersebut diatas. Karya Mark telah menjadi best seller dan mengantarkannya menerima piala Horatio Alger Award.

Tak syak lagi, kalau kita amati sebenarnya problem hidup Mark adalah representasi dari problem besar umat manusia terlepas apakah hal itu disadari atau tidak sama sekali. Problem tersebut terletak pada penyikapan pilihan. Ada yang memilih bahwa realita yang dihadapi adalah penyebab mengapa dirinya menjadi seperti sekarang ini. Tak terhitung jumlah kejahatan dalam berita TV dari mulai level kecil sampai besar yang diakui oleh pelakunya karena "dipaksa" oleh keadaan. Ungkapan dipaksa dalam berbagai variasinya merupakan indikator bahwa individu tersebut sebenarnya menjadi korban (effect).

Pilihan

Memang tidak akan ada lembaga pengadilan manapun yang memveto hukuman atas pilihan kita antara sebagai the cause atau the effect. Tetapi pilihan kita menciptakan konsekuensi yang sangat membedakan. Kalau kita memilih sebagai the effect, maka penyikapan hidup yang paling dekat adalah adanya resistensi untuk mengubah diri dan berarti telah melawan pasal hukum alam lain lagi bahwa semua kemampuan aktif manusia diperoleh dengan cara menjalani proses pembelajaran (baca: mengubah diri dari ketidakmampuan masa lalu menjadi kemampuan baru). Lebih sering lagi, kesadaran sebagai the effect mudah menyulut kita untuk menyalahkan orang lain dan keadaan ketika effect yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan atau yang diharapkan.

Sementara dengan memilih sebagai the cause, optimalisasi dan kontrol berada di tangan kita. Di level pengetahuan, rasanya tidak sulit menebak kalau dikatakan semua orang ingin menjadi the cause bagi dirinya. Tetapi yang dibutuhkan bukan sekedar mengetahui melainkan apa yang disebut oleh Mark dengan "Awakening Call", sebuah kesadaran baru adanya panggilan untuk mengubah diri dari the effect ke the cause. Kesadaran baru demikian bukanlah anugerah melainkan murni proses pencapaian yang dibarengi dengan menyingkirkan benda-benda yang tidak kita butuhkan tetapi kita abadikan di dalam sehingga benda tersebut benar-benar menjadi penghalang transformasi.

Membiarkan

Salah satu penghalang transformasi kesadaran adalah tembok yang sering diistilah dengan sebutan "Self-excusing". Dari pendapat para pakar ditemukan perbedaan mendasar antara self excusing dengan self-forgiving meskipun sama-sama punya arti literal "memaafkan". Self excusing adalah membiarkan diri anda tak terurusi (letting yourself down), sementara self-forgiving adalah memaafkan dalam arti mengakui kesalahan dan bergerak (moving & acknowledging) untuk membenarkannya (Frank Gilbert: 1999). Dengan kata lain, self-excusing adalah penyikapan yang kurang gagah menghadapi diri atau rasa tidak percaya diri (low self-confidence) mulai dari domain cara pikir (mindset) sampai ke tindakan. Umumnya kita lebih terfokus untuk memasang mekanisme penyerangan agar bisa lebih gagah menghadapi orang lain dan sebaliknya menghadapi diri sendiri sering membuat kita minder. Jadi telah terjadi pemutarbalikan fungsi kegagahan.

Mekanisme self-excusing diungkapkan melalui berbagai macam bentuk mulai dari pemikiran, perasaan, keyakinan, dan tindakan. Sebagian di antaranya dapat disebutkan di sini:

1. Pembenaran Diri

Keinginan kita untuk berubah terhalang oleh keyakinan atas kebenaran sendiri yang berlawaan dengan kebenaran universal (the universal principles). Jika kita meyakini kalau tidak melanggar aturan kita tidak akan hidup maka keyakinan demikian akan membuat kita menjadi korban karena keyakinan itulah yang akan menjadi realita hidup. Padahal peristiwa yang sebenarnya terjadi adalah murni masalah model penyikapan yang kita pilih.

2. Penipuan Diri

Transformasi kesadaan dari the effect ke the cause juga dihalangi oleh mekanisme "politicking" atau menipu diri secara halus. Contoh yang sering dibuktikan oleh realita adalah kemandirian orang cacat (maaf, misalnya orang buta) yang menolak menipu-diri dengan menjalani profesi tertentu seperti ahli pijat, tokoh masyarakat. Logikanya, kalau ada orang cacat fisik bisa mandiri berarti tidak akan ada orang normal yang tidak bisa hidup mandiri. Tetapi kenyataan yang terjadi tidak demikian. Mandiri dan tidak mandiri tidak ada hubungan mutlak dengan kenormalan fisik tetapi berhubungan dengan kualitas menolak politiciking. Memanjakan diri juga sering menjebak kita pada praktek politicking di mana kita merasa tidak mampu mengoptimalkan potensi.

3. Perbandingan

Mekanisme perbandingan yang sering menghalangi transformasi adalah perbandingan dalam hal negatif. Begitu kita membandingkan dengan sisi kelemahan/kejelekan orang lain, maka yang muncul adalah semangat untuk membiarkan diri . Perbandingan yang dianjurkan adalah membandingkan keunggulan orang lain dengan diri kita untuk dipelajari. Atau dalam bisnis dikenal dengan istilah kompetisi, bukan kongkurensi

4. Kerelaan Menjadi Korban

Mekanisme yang biasa kita terapkan untuk merelakan-diri adalah menuding orang lain atau keadaan sebagai penyebab yang menghalangi kita menjadi the cause atas diri kita. Biasanya kerelaan ini disebabkan oleh kesalahan membuat kalkulasi ukuran diri dan ukuran masalah yang kita hadapi atau ketidakmampuan mengambil keputusan berdasarkan fakta aktual tentang diri kita (who are we?).

5. Penolakan Tanggung Jawab

Mekanisme menolak adalah pembatas yang kita ciptakan sendiri atau kesengajaan untuk menghentikan perjalanan proses transformasi di dalam diri yang umumnya tidak kita sadari. "Orang miskin seperti saya mana mungkin bisa menjadi kaya". Ungkapan demikian adalah pernyataan-diri bahwa kita dengan demikian tidak dikenai tanggung jawab untuk mengubahnya dan melemparkan tanggung jawab ini kepada orang lain yang kita anggap harus bertanggung jawab.

6. Penolakan Konsekuensi

Apapun yang kita pilih akan melahirkan konsekuensi tertentu yang apabila kita terima dengan pengakuan dan pemahaman akan mendekatkan jarak transformasi dari the effect ke the cause. Tetapi, umumnya kita menciptakan pilihan dan menolak konsekuensi yang muncul kemudian. Kalau kita memilih tidak mau mengembangkan diri, mestinya secara rasional kita merelakan diri dengan konsekuensi ketinggalan, bukan menyalahkan orang lain yang lebih maju. Dengan menolak berarti memperlambat proses transformasi.

7. Kebrutalan

Kebrutalan (dehumanization) adalah mekanisme menolak kebenaran yang diyakini. Orang bisa bertindak brutal kalau dirinya mengunci hati, pendengaran dan penglihatan. Bahkan kebrutalan tersebut akan semakin menjadi-jadi ketika tidak secara cepat dilakukan upaya menarik diri. Mekanisme demikian jelas akan menghalangi proses transformasi kesadaran dari the effect ke the cause.

Evolusi Diri

Self-excusing yang menghalangi kita menyadari sebagai the cause dari realita yang kita terima saat ini merupakan produk yang dihasilkan oleh sejumlah pilihan yang berlangsung sejak kecil tepatnya usia remaja di mana kita baru mulai bersentuhan dengan konflik. Dapat dipastikan, kebanyakan orang memiliki ketujuh hambatan di atas atau lebih, tetapi yang membedakan adalah kandungan kadarnya. Untuk menentukan jumlah kadar yang terberat dibutuhkan penemuan terhadap prinsip hidup (pendirian), nilai/keyakinan, cita-cita yang telah dirumuskan ke dalam tujuan hidup dan posisi di mana kita berada saat ini. Perubahan diri yang tidak diberangkatkan pada aspek kedirian yang mendasar seringkali kalah oleh virus kehidupan yang membuat keinginan berubah dari the effect ke the cause menjadi keinginan umum yang tidak punya nyali.

Adapun alasan mengapa lebih tepat memilih jurus evolusi ketimbang revolusi adalah karena perubahan diri identik dengan perubahan nasib (peristiwa yang secara sirkulatif/repetitif terjadi). Untuk mengubah nasib memang di atas kertas putih membutuhkan dunia baru tetapi pada prakteknya kenyataan sering menunjukkan bahwa hal tersebut tidak membutuhkan perubahan peristiwa eksternal. Mungkin lebih tepat kalau dikatakan, dunia baru dibutuhkan tetapi bukan syarat mutlak kalau memang tidak bisa dilakukan sekarang ini, tetapi yang mutlak dibutuhkan adalah diri yang baru (sikap, pola pikir dan perilaku baru).
Langkah evolutif yang dapat kita jalankan untuk mengubah diri (menjalankan transformasi kesadaran) adalah:

1. Menyadari

Orang akan tetap mempertahankan diri meskipun salah, jika dirinya tidak sadar bahwa kesalahan itu memang benar-benar salah. Teori manajemen menjelaskan, perubahan harus diawali dengan proses kesadaran membuat identifikasi tentang apa/bagian mana yang kita inginkan untuk diubah dan mengapa perubahan tersebut kita inginkan (baca: alasan paling mengakar). Dalam hal ini perlu kita ingat bahwa kesadaran tersebut harus menyatakan keinginan bukan ketakutan. Jika ini yang terjadi maka yang diketahui seseorang hanyalah bagaimana menghindari kegagalan, bukan meraih kesuksesan.

2. Mengganti

Apa yang telah kita sadari untuk diubah itulah yang harus kita ganti. Begitu kita menyadari adanya godaan untuk menggunakan kebenaran sendiri, segera kita ganti dengan lawannya. Tehnik lain adalah dengan cara challenging (menantang) bahwa kita melawan bentuk keyakinan, pemikiran, dan perasan yang kita yakini salah. Tehnik lain lagi adalah membuat affirmasi secara berulang-ulang (baca: metode dzikir) ketika kesadaran muncul saat dialog-diri berlangsung. Ketiga tehnik ini dapat mempertebal kualitas, apa yang sering disebut "the moment of truth" atau "critical accident" di mana kita memiliki "personal picture" yang lebih jelas seperti yang kita inginkan atau cara pendekatan yang lebih gamblang bagaimana mengubah diri.

3. Mengintrospeksi

Untuk mendeteksi sejauhmana stabilitas transformasi telah berlangsung, maka kita membutuhkan intropeksi. Di sini yang kita lakukan adalah membuat penilaian apa yang sudah diraih dan apalagi yang perlu untuk dilakukan. Di samping itu instropeksi juga berguna untuk mendeteksi kadar self-excusing yang bisa jadi masih tetap bercokol dalam diri kita hanya gara-gara lupa membuat elaborasi, analogi, atau interpretasi dalam memahami dan melaksanakan. Misalnya saja politicking. Kalau praktek yang kita rekam sejelas perbedaan antara orang buta yang mandiri dan orang normal yang tidak mandiri, pikiran kita bisa langsung paham tetapi bagaimana dengan mentalitas "begging" (baca: meminta-minta, bukan meminta) yang di-politicking? Memang diperlukan pengakuan yang jujur untuk berani mengatakan kitalah yang menjadi penyebab "nasib" kita hari ini. Selamat memilih.

Psikologi Individual Postur Mental


Dimasa kejayaan Mike Tyson, hampir setiap orang di seluruh dunia pasti akan menilai bahwa kemenangan pertandingan diberikan kepada para penantang, sebab kenyataannya jarang seklai penantang yang bertahan sampai ronde akhir melawan si "leher beton" itu. Malah ada yang dirobohkan hanya dalam hitungan detik. Sosok Tyson dibentuk oleh citra sebagai petinju tanpa tanding seakan-akan ia adalah makhluk "pengecualian". Hingga kemudian Hollyfield menerima tawaran bertanding dengan si leher beton itu. Masih segar dalam ingatan kita, Hollyfield ternyata mampu mengalahkan Tyson. Sejak saat itu citra tentang Tyson yang telah didefinisikan oleh masyarakat dunia setidaknya tidak lagi mengarah pada sosok pengecualian atau tanpa tanding.

Bagaimana Hollyfield bisa mengalahkan Tyson? Dari ungkapannya saat perang mental berlangsung yang dilansir oleh sebagian besar media massa dunia, kata-kata Hollyfield yang pantas dicatat adalah: "Saya akan menggunakan rasa takut untuk melawan". Dari sejumlah komentar pengamat di bidang tinju dapat disimpulkan bahwa rasa takut itulah yang mengilhami Hollyfield menemukan jurus mempertemukan keunggulan dirinya dengan kelemahan Tyson. Jurus gerilya: menyerang dan menjauh ternyata efektif karena Tyson punya jangkauan pukulan lebih pendek. Itulah gambaran yang secara filosofi dapat dijabarkan bahwa menang dan kalah tidak ditentukan semat-mata oleh ukuran besar-kecil sosok lawan tetapi oleh strategi mempertemukan keunggulan melawan kelemahan: strength against weakness.

Posisi Mental

Tak bisa dipungkiri, semua orang membutuhkan strategi mempertemukan keunggulan diri guna melawan kelemahan lawan. Belajar dari pertandingan tinju di atas, kemenangan atau kekalahan dalam menghadapi problem sebenarnya tidaklah diukur oleh besar-kecil problem yang mayoritas telah didefinisikan oleh pencitraan umum sebagai suatu persoalan yang sulit, tidak mungkin atau sudah dicoba banyak orang tetapi gagal. Kenyataannya kemenangan dihasilkan oleh strategi bagaimana anda mendifinisikan keunggulan di dalam dan kekurangan di luar sehingga mampu memilih posisi untuk menempatkan postur diri (disebut juga postur mental) secara tepat di hadapan problem. Postur Diri adalah posisi mental tertentu yang anda gunakan dalam melihat suatu persoalan.

Secara umum posisi mental setiap orang dapat dikategorikan sebagai berikut:

a. Pemenang

Problem mempunyai konstruksi seperti gajah dan mayoritas orang menempati posisi mental seperti dilakukan orang buta yang meraba gajah tersebut. Dengan posisi mental demikian maka apa yang didefinisikan tentang problem tidak bisa menjabarkan sisi mana yang lebih sederhana dan lebih dulu diselesaikan kecuali hanya dimiliki oleh sedikit orang dengan posisi pemenang.

Jika merujuk pada identifikasi Dr. R.M. Bucke dalam bukunya Cosmic Consciousness (Performance Unlimited: 1998), maka karakteristik dominan dari seorang postur pemenang adalah sebagai berikut:

  1. Realistik - menempatkan posisi mental berada di atas realitas, tidak tenggelam di dalamnya.
  2. Mengakui - menerima diri, orang lain dan keadaan dengan ‘understanding as they are’
  3. Sederhana - mampu menempatkan diri secara tepat: tidak kurang dan tidak lebih
  4. Problem Solving - melihat persoalan dari partikulasi atau sudut yang paling mungkin untuk diselesaikan.

Dengan posisi mental sebagai pemenang maka sangat dimungkinkan bahwa individu akan menghasilkan kemenangan di akhir pertandingan melawan problem hidupnya. Setidaknya pun ia masih belum menang secara total tetapi setidaknya sudah bisa mengalahkan mentalitas kalah di dalam dirinya.

b. Pecundang

Posisi mental kalah atau pecundang adalah kualitas mental yang melihat problem sebagai the absolute truth of problem, sebuah alasan yang dijustifikasi dan bukan tantangan yang menuntut solusi. Kekalahan itu bisa diekspresikan dengan penolakan dalam bentuk kerelaan hilangnya harga-diri sebagai manusia normal. Postur pecundang ini tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup berbasis problem yang melihat kenyataan dengan lensa problem. Menurut Patrice Steen dan John Robson dalam artikelnya Choose What You Want in Life (Higher Awareness - Inner Journey Newsletter: 2001) karakteristik dari gaya hidup berbasis problem adalah:

  1. Ketakutan terhadap sesuatu
  2. Terintimidasi harapan pihak lain
  3. Kebiasaan yang salah dalam menangani masalah
  4. Perilaku reaktif semata

Dampak paling buruk dari postur pecundang adalah kerelaan hilangnya harga diri. Kerelaan ini kalau didukung dengan keberanian akan menghasilkan tindakan yang tidak saja merugikan diri sendiri melainkan tindakan brutal yang menghalalkan segala cara dan tentu saja merugikan orang lain.

c. Pasrah

Postur ini secara kualitatif berada di antara kedua postur di atas atau lebih tepatnya dikatakan postur berpotensi menang atau kalah, tergantung kemauannya untuk berkembang. Ciri khas yang paling menonjol adalah mempermasalahkan masalah yang sednag emnimpanya sebab bagi dirinya masalah adalah sebatas apa yang ia rasakan tidak enak. Biasanya ia sama sekali tidak mengambil prakarsa solusi secara keseluruhan atau bagiannya sebab merasa orang lain di dekatnya lebih mampu. Merujuk pada pendapat Andrew Wood dalam bukunya Life’s Champions (Hammond e-Resource: 2002) penyebab dari postur ini adalah kekurangan perangkat sumber daya berupa: pengetahuan atau ketrampilan.

Bagaimana Menjadi Pemenang?

Prinsip dasar pembelajaran-diri adalah manusia dilahirkan untuk menyelesaikan semua bentuk problem: difficulty, dilemma, puzzle, atau mystery. Sesuai dengan perubahan dan kemajuan maka kompleksitas tiap bentuk pun bertambah sehingga mau tidak mau menuntut perbaikan kemampuan menciptakan solusi secara terus-menerus untuk menjadi lebih baik. Posisi mental pemenang dihasilkan dari upaya pembelajaran-diri secara terus menerus, perbaikan dan peningkatan dari beberapa materi berikut:

1. Membangun karakter

Tak aneh kalau dikatakan hidup adalah permainan yang diperagakan di atas panggung di mana masing-masing orang memainkan peranannya. Posisi mental pemenang merupakan cerminan karakter mental menang dan karakter menang didasarkan pada sejauhmana anda menjiwai naskah asli anda. Orang yang memahami secara utuh siapa dirinya dengan peranan yang harus dimainkan, memahami bagaimana lingkungan dan masalah yang dihadapi maka akan menghasilkan karakter superior di mana ia menginjakkan kaki di atas bumi realitas tanpa was-was, atau rasa khawatir atas ancaman yang muncul dari sesuatu yang tidak diketahui atau virus "Jangan-jangan kalau..."

Dalam menghadapi bentuk dan jenis problem yang sama masing-masing individu bisa memiliki karakter berbeda: kalah - menang. Karakter kalah sudah lebih dulu dikuasai oleh citra yang dibuat sendiri atau kerelaan menerima secara utuh definisi atau citra dari orang lain bahwa postur problem yang dihadapi lebih besar dan tidak lagi terbuka celah untuk dilumpuhkan. Semakin lama mentalitas inferior itu menduduki wilayah kekuasaan seseorang atas hidupnya maka akan menjelma menjadi bentuk penyikapan: "The I cannot attitude".
Memiliki posisi mental pemenang atas problem yang anda hadapi diawali dari upaya kristalisasi karakter mental menang bahwa diri anda lebih besar dari problem; bahwa jumlah solusi yang mampu anda temukan lebih banyak dari jumlah problem yang anda hadapi; bahwa anda memahami siapa diri anda: kekuatan, kelemahan, dan apa yang akan dilakukan. Karakater inilah yang harus terus-menerus anda bangun.

2. Membangun keyakinan

Menghadirkan posisi pemenang atas problem mutlak membutuhkan keyakinan atas kemampuan diri (self confidence - PD). Self Confidence dibentuk dari sejumlah alasan faktual tentang kemenangan masa lalu anda atas berbagai persoalan. Semakin banyak kesuksesan masa lalu yang anda kumpulkan akan menjadikan anda semakin "PD" menghadapi persoalan sekarang. Meskipun secara data tehnis bisa jadi berbeda antara problem masa lalu dan sekarang tetapi yang perlu anda kembangkan adalah karakter mental dan rasa percaya diri.

Selain rasa percaya diri, bentuk keyakinan yang perlu anda kembangkan adalah keyakinan atas kekuatan yang menjadi sumber segala kekuatan di luar diri anda, keyakinan nilai yang gaib dan tak terlihat (invisible) atau keimanan pada Tuhan. Orang yang tidak punya keyakinan bahwa dirinya dilindungi, dibantu, dijamin perbuatannya tidak sia-sia, maka postur diri yang dihasilkan adalah postur pasrah atau kalah. Persoalannya adalah bagaimana orang bisa "mendekati" Tuhan sehingga kekuatan-Nya yang begitu besar tidak dimubazirkan oleh cara memahami yang kurang sesuai. Secara mekanisme, sejumlah agama di dunia mengajarkan pendekatan dengan doa, yang secara ilmiah membuktikan bahwa keyakinan dan doa berperan seperti sayap. Kalau anda tidak punya sayap, bagaimana mungkin terbang di atas realitas?

3. Membangun dukungan

Dukungan orang lain adalah power bagi anda untuk menghasilkan posisi mental pemenang. Tetapi mendapatkan dukungan adalah akibat (the effect) dari usaha anda menciptakan alasan bagi orang lain bahwa anda layak didukung. Semua itu perlu dimulai dari dalam guna membangun kepercayaan dan kredibilitas secara moral dan professional. Moral adalah manifestasi kepribadian yang dibentuk oleh nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keikhlasan, pengabdian dan lain-lain, sementara profesionalitas adalah penguasaan ketrampilan atau pengetahuan khusus.

Untuk mendapatkan dukungan secara utuh, sebaiknya anda menjalankan program kelayakan dipercaya secara bersamaan: moral dan professional. Sebab kenyataan membuktikan bahwa kelayakan yang dibangun hanya dari salah satu unsur itu menyimpan kata “tetapi” di akhirnya yang menandakan tidak utuh: Anda jujur tetapi…? Atau anda pintar tetapi…..?

Membangun postur diri adalah pencapaian kualitas mental dalam menghadapi problem kehidupan dari waktu ke waktu. Prinsip yang paling mendasar adalah probem bukanlah "the absolute truth of fact" tetapi murni "the shadow of mindset" yang menyisakan sekian banyak sudut pandang. Kemenangan dan kekalahan dalam melawan problem bukan ditentukan oleh ukuran besar-kecil problem akan tetapi posisi mental yang kita pilih secara rasional untuk mengambil posisi mental pemenang. Sebab fakta alamiah menunjukkan bahwa semakin "besar" ukuran seseorang semakin besar pula ukuran problem yang dihadapi. Selamat mencoba.

Psikologi Individual Harga Gelar Akademik

Ada pandangan yang kontradiktif di masyarakat kita tentang gelar akademik. Tak sedikit yang berpendangan bahwa gelar akademik itu sama sekali tidak penting. Sesungguhnya, pandangan demikian bukan disebabkan oleh gelar itu sendiri, namun disebabkan banyaknya orang yang merasa kurang diuntungkan dari gelar akademis yang dimilikinya. Sampai-sampai, ada istilah "sarjana pengangguran", "Sia-sia saja empat tahun bergelut dengan buku akhirnya susah mencari kerja", kata Iwan Fals.

Namun di lain pihak, tak sedikit yang tetap berpandangan bahwa gelar itu sangat penting. Hampir semua iklan lowongan kerja yang dibuka untuk pasar umum menetapkan gelar atau sertifikasi akademik (kursus dan diploma) sebagai persyaratan. Lebih-lebih lagi untuk jabatan-jabatan yang berkaitan dengan posisi di pemerintahan.
Kenyataan yang mencerminkan pandangan kedua ini juga bisa kita lihat dari praktek hidup sehari-hari. Andaikan gelar itu tidak penting, tentu tak akan ada calon legislatif kita yang ditemukan aparat ternyata bergelar palsu (aspal). Andaikan gelar itu tidak penting tentu jumlah perguruan tinggi tidak sebanyak yang ada di negara kita ini.
Adanya pro-kontra pandangan demikian tentu bukanlah masalah bagi jalannya kehidupan secara umum. Semua orang sudah bisa memaklumi bahwa di dunia ini memang sudah sewajarnya harus terjadi pro dan kontra. Lalu, dimana letak masalahnya? Gelar akademik akan menjadi masalah jika diri kita bermasalah, seperti adanya konflik-konflik dalam diri yang akhirnya membatasi pemberdayaan-diri, pendidikan-diri, dan pembelajaran-diri kita.

Mental Kuat Vs Mental Lemah

Tentu saja, baik kita memilih antara gelar akademik itu penting atau tidak penting, keduanya jelas benar. Benar di sini punya pengertian memiliki data-data faktual di lapangan. Semudah kita menemukan orang bergelar atau tidak bergelar bisa berprestasi tinggi, semudah itu pula kita menemukan orang tak bergelar atau bergelar yang belum / tidak berprestasi tinggi. Kira-kira inilah kalau kita bicara kenyataannya secara umum.

Hanya saja, ketika kita bicara kenyataan spesifik dan kenyataan riil bagi setiap individu, persoalannya akan sedikit berbeda dan hal ini erat hubungannya dengan sikap mental. Ada 2 macam sikap mental, a) sikap mental lemah dan b) sikap mental kuat.
Sikap mental lemah, adalah ekspresi penyikapan yang dilandaskan pada kesimpulan kalah oleh realita, hanyut ke dalam realita. Sementara sikap mental kuat adalah ekspresi penyikapan yang dilandaskan pada kesimpulan menang, bergerak menginjak realita. Adakah orang yang sanggup mengalahkan realita? Tidak ada orang yang sanggup melawan realita. Tetapi, pengertian kalah di sini, adalah kegagalan kita menemukan bagian spesifik dari realita yang tepat untuk memberdayakan diri kita.
Mengapa kita perlu memilih sikap mental kuat dan memilih menjadi pemenang? Kenyataan itu, kata orang bijak adalah keragaman yang menyatu dengan keseragaman, perbedaan yang menyatu dengan persamaan, dan punya dimensi yang tak sanggup dirangkul kekuasaan apapun. Tetapi, kenyataan adalah potensi yang cukup cair sehingga oleh Samuel Butler dikatakan: "Hidup ini seni", life is an art. Namanya seni, berarti sebagian besar keindahan sebuah kreasi lebih banyak ditentukan oleh sikap mental untuk menyentuh, bukan tergantung pada bahan baku. Batu bisa hanya sekedar menjadi batu tetapi bisa pula menjadi patung yang bernilai.
Perbedaan pola sikap mental yang kita gunakan dalam melihat kenyataan, akan menciptakan perbedaan kesimpulan mental (hasil makna) yang kita pahami. Perbedaan kesimpulan akan membedakan keputusan, dan perbedaan keputusan akan membedakan (rencana) tindakan, perbedaan tindakan akan membedakan kebiasaan dan perbedaan kebiasaan akan membedakan karakter (prilaku menghadapi hidup) dan perbedaan di tingkat karakter akan membedakan perbedaan tanggapan (feedback) yang dikeluarkan oleh kehidupan kepada kita. Mungkin inilah sedikit urut-urutan dari kesimpulan yang sering kita dengar bahwa: "Dunia di dalam, akan menentukan dunia di luar". "Nasib adalah pilihan, buka hadiah dari peluang". "Man behind the gun". "Jika kau mengubah dirimu akan berubah nasibmu". Dan sejumlah ungkapan lain yang kira-kira punya arah kesimpulan senada.
Jadi, segala sesuatu banyak tergantung pada orangnya. Kata-kata "tergantung orangnya" ini menunjuk sikap mental (mental attitude), strategi yang kita pilih untuk menyikap hidup, jalan hidup yang kita gunakan untuk mendapatkan keinginan, dan seterusnya. "Hidup ini adalah pemainan", kata firman kitab suci. "Separoh dari permainan hidup ini dimenangkan oleh sikap mental", kata Danny Ozark (Half this game is 90 % mental). "Kemenangan para juara di lapangan itu (sepertinya) adalah kebiasaan dan gaya hidup. Celakanya demikian pula kekalahan", kata kesaksian Vince Lombardi yang sudah bertahun-tahun hidup bersama para atlit.
Hubungannya dengan harga sebuah gelar yang kita miliki dan gelar yang tidak kita miliki adalah, harga sebuah gelar pada praktek hidup yang paling spesifik lebih banyak ditentukan bukan oleh angka yang melekat pada gelar itu, tetapi oleh bagaimana kita mengolahnya menjadi indah; ditentukan oleh sikap mental yang kita pilih untuk menyikapi realita yang pro-kontra terhadap gelar, atau bagaimana kita menjatuhkan kartu bermain dari kartu apapun yang sudah kita miliki. Mark Twin pernah bilang: "Hidup ini bukan persoalan kartu apa yang kita terima, tetapi kartu apa yang kita pilih untuk kita jatuhkan".
Penting dan tidak pentingnya gelar itu bagi kita adalah pilihan, kebebasan dan kesimpulan pribadi. Tetapi yang perlu kita audit adalah untuk apa kesimpulan itu akan kita gunakan? Bergelar dan tidak bergelar akan sama saja tak banyak menolong kalau kita menggunakannya untuk mencari alasan yang hanya akan memperlemah diri (self excusing). Meminjam ungkapan Pak Bob Sadino, kesimpulan memperlemah ini akan membuat kita kehilangan momen untuk melakukan sesuatu, kehilangan daya kreatif, dan inovasi. Bisa jadi, kesimpulan ini juga berpotensi untuk memversikan Tuhan sebagai pihak yang selalu salah memberi sesuatu kepada kita.

Proses Belajar

Salah satu hukum yang pernah digagas oleh Aristotle sebelum meninggal adalah "The law of success" (Hukum Merealisasikan Tujuan Bertahap). Isinya adalah, apa yang menjadi keharusan bagi kita yang ingin merealisasikan tujuan itu? Di sini Aristotle merumuskan tiga hal inti yaitu:

  1. kejelasan keinginan
  2. kejelasan alat yang kita pilih
  3. kejelasan sikap mental yang kita pilih
"Pertama kali memilikilah tujuan hidup yang jelas. Kedua, milikilah cara untuk mencapai tujuan. Cara itu beragam dan bisa anda pilih: materi, metodologi, uang, atau kepribadian. Ketiga, gunakan yang anda miliki untuk mencapi tujuan".
Kalau formula itu akan kita gunakan untuk memberi angka-jual gelar akademik yang kita miliki atau tidak kita miliki, maka kuncinya adalah:
  1. Ekspresi keinginan spesifik,
  2. Kecocokan antara keinginan, alat dan hukum kebiasaan
  3. Kreativitas menggunakan alat untuk mencapai keinginan.

Salah satu jurus yang bisa kita gunakan untuk mengeksplorasi keinginan yang benar-benar spesifik bagi kita adalah pertanyaan-diri (self-questioning), misalnya saja: "Apa yang bisa saya lakukan dengan apa yang sudah saya miliki dalam hidup ini, untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik?" Semakin banyak jawaban yang kita temukan akan semakin bagus sehingga kita memiliki banyak pilihan untuk menyusun langkah berdasarkan skala prioritas utama.

Merujuk pada formula ini berarti gelar atau tanpa gelar itu masuk dalam wilayah alat. Seperti dikatakan Aristotle sendiri, alat ini jelas bukan hanya itu, bukan satu, dan sebanyak pilihan kita kecuali kita membatasi pilihan itu. Dan yang penting, pilihan kita terhadap alat ini adalah kecocokan yang sifatnya sangat pribadi. "Orang akan mencapai kualitas tertentu kalau dia terus melakukan sesuatu dengan cara / jalan tertentu", begitu Aristotle menambahkan.

Karena kepemilikan gelar akademik ini sebagian besar lebih ditentukan oleh hasil penilaian pribadi kita, maka kreativitas menjadi sangat dibutuhkan. Meskipun kita adalah makhluk yang unggul, tetapi jika penilaian kita atas diri kita tidak menghasilkan kesimpulan yang berarti, maka hampir dipastikan kita menghadapi kenyataan yang sama dengan penilaian kita terhadap diri sendiri. Robert Kiyosaki menyimpulkan bahwa kegagalan itu akan menghancurkan orang kalah (loser) tetapi akan memberi inspirasi maju bagi orang menang (winner). Kesimpulan ini tentu tak akan jauh dari sikap mental kuat, kemampuan mengolah apa yang sudah kita miliki dan bagaimana menggunakan apa yang kita miliki untuk mencapai apa yang kita inginkan. Semoga bermanfaat.

Psikologi Individual Saatnya Mengaudit Langkah

Hidup Adalah Sebuah Pilihan
Jika hingga detik ini Anda merasa sudah berusaha kemana-mana, sudah mengerahkan segala daya upaya yang paling optimum menurut perasaan Anda, sudah berdo'a dengan redaksi yang paling hebat, sudah menghubungi siapa saja yang menurut Anda pantas dihubungi, dan ternyata hasilnya masih jauh dari yang Anda inginkan, atau bahkan sama sekali tak match, maka ada satu hal yang penting untuk dihindari dan ada satu hal yang perlu untuk dilakukan.

Satu hal yang penting untuk dihindari adalah membiarkan diri kita larut, hanyut, dan tenggelam ke dalam kesedihan meratapi nasib yang menurut perasaan kita jauhnya minta ampun dengan impian kita. Alasan yang perlu kita sederhanakan antara lain bahwa selain bukan hanya kita seorang saja di dunia ini yang merasakan perasaan demikian, munculnya "bad-surprise" dalam nasib kita itu adalah sesuatu yang diizinkan Tuhan untuk ada di muka bumi ini.

Karena atas izin-Nya, maka ia ada dan terjadi bukan untuk sebuah kesia-sian belaka, melainkan ada kegunaan yang bisa dimanfaatkan, meskipun harus diakui bahwa menurut perspektif manusia, tentulah tidak ada dari kita yang menginginkannya; tidak ada yang ingin merasakannya; dan tidak ada yang ingin mengalaminya, selain juga tidak boleh mengharapkannya.

Lantas apa kegunaan itu? Sampai pada tahap ini, sering sekali kita melupakan satu hal bahwa yang dipersilahkan untuk memilih kegunaan tertentu itu adalah kita, bukan malah balik bertanya kepada dunia tentang apa gunanya atau malah memasang sikap apatis yang menolak untuk menggali kegunaan selain yang sudah kita rasakan. Penderitaan itu memang membuat manusia menderita, upset, hopeless, distress, frustasi, dan seterusnya, tetapi soal untuk apa itu akan kita gunakan, adalah murni pilihan kita.

Semua itu pilihan kita, mau digunakan untuk menghancurkan diri, atau untuk pembangkit energi. Mau dijadikan racun, atau dijadikan obat - meski obat seringkali pahit rasanya. Mau dijadikan bencana atau mau dijadikan lentera - pencerahan jalan hidup. Semua balik lagi terserah pilihan kita, manusia.

Satu hal lain lagi yang perlu kita ingat bahwa tentu saja untuk mengusahakan dan mewujudkan kegunaan positif itu lebih sulit dari pada memilih kegunaan yang negatif. Dunia ini mengajarkan bahwa untuk mendapatkan hal-hal positif, dibutuhkan inisiatif sementara untuk mendapatkan hal-hal negatif hanya dibutuhkan pengabaian dan membiarkan. Tetapi di sisi lain, dunia juga mengajarkan bahwa untuk berinisiatif, biasanya beban yang ditanggung satu ons tetapi dengan mengabaikan, beban yang kita tanggung bisa kelak menjadi satu ton.

Defining Moment

Satu dari sekian kegunaan positif yang sudah dipilih oleh orang-orang positif di dunia ini adalah menjadikan hal-hal buruk yang tidak diinginkannya sebagai "defining moment". Artinya, penderitaan yang dialami, entah itu besar atau kecil, dadakan atau berkepanjangan, dijadikan dorongan yang benar-benar tepat (pil) untuk melakukan perubahan, perbaikan, audit, dan seterusnya. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai moment untuk menaikkan standar prestasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dalam kaitan dengan pembahasan kita kali ini, mungkin kita perlu menjadikan kenyataan buruk yang kita alami sebagai moment untuk meng-audit hal-hal berikut:

1. Sasaran yang kita tetapkan

Termasuk dalam cakupan sasaran di sini antara lain: cita-cita, keinginan, tujuan, target, dan seterusnya. Mengapa sasaran yang perlu diaudit? Jika kita tidak punya sasaran, ibaratnya seperti orang bingung sedang jalan-jalan. Jika kita punya sasaran tetapi telalu tinggi menurut ukuran riil kita, kegoncangan akan muncul. Jika kita turunkan terlalu rendah menurut ukuran riil kita, maka kemandekan mengancam. Supaya kegoncangan yang kita alami tidak berkepanjangan, maka sasaran yang sudah kita teorikan di kepala perlu diaudit, entah itu diturunkan sementara, diperbaiki, diperjelas, dipendekkan, di-spesifik-kan, berdasarkan keadaan-diri kita pada hari ini. Meskipun ini tidak mengubah kenyataan buruk sedikit pun, tetapi kegoncangan batin yang kita alami sudah kita datangkan obatnya.

2. Cara, strategi, kebiasaan yang kita pakai

Hal lain yang perlu diaudit adalah cara, strategi atau seperangkat kebiasaan yang biasa kita gunakan selama ini untuk meraih sasaran yang kita inginkan dan ternyata masih gagal. Menurut hasil renungan Napoleon Hill, kebanyakan kita gagal usahanya bukan karena kita tidak mampu mewujudkan keberhasilan yang kita inginkan, melainkan karena kita mempertahankan satu cara yang sudah jelas-jelas gagal di lapangan.

Bahkan jika dilihat dari penjelasan firman Tuhan kepada kita semua, mempertahankan cara atau strategi yang sudah nyata-nyata gagal dan menolak untuk mengais cara lain, termasuk bukti dari keputusasaan kita terhadap rahmat-Nya, yang dalam bahasa agama sering disebut sesat atau gelap. Karena itu, yang diperintahkan kepada kita adalah meyakini adanya pintu lain yang sudah terbuka jika kita mendapati satu pintu yang tertutup. Sayangnya, terkadang kita terlalu lama memandangi pintu yang sudah nyata-nyata tertutup sehingga kita gagal menemukan pintu lain yang sudah terbuka.

Cara, strategi atau kebiasaan yang perlu diaudit, bukan semata yang dalam bentuk fisik, melainkan yang lebih penting lagi, adalah cara berpikir, strategi berpikir, kebiasaan berpikir atau sesuatu yang ada di dalam batin kita. Jim Rohn berpesan: "Semua yang ada di luar dirimu akan berubah jika kamu mengubah dirimu". Hal ini karena semua kreasi fisik, entah itu tindakan atau hasil tindakan, awalnya diciptakan dari dalam batin kita (kreasi mental). Tindakan yang jitu lahir dari pikiran yang jitu, tindakan yang masih meleset lahir dari pikiran yang belum pas, kira-kira begitulah.

3. Orang, lingkungan atau jaringan yang kita masuki

Jika dalam bisnis perumahan ada kata pusaka yaitu: lokasi, lokasi, dan lokasi, maka dalam meng-audit langkah atau mengubah nasib kita, mungkin kata pusaka itu perlu diganti menjadi: orang, orang dan orang. Orang, lingkungan dan jaringan yang kita masuki, memang tidak membuat / mengubah kita menjadi apapun tetapi jika kita ingin mengubah diri dalam arti yang luas, maka ini perlu mengubah jaringan orang yang kita kenal, entah dengan cara menambah, mengurangi, memperluas, memperdalam hubungan, dan lain-lain.

Dengan mengubah jaringan orang yang kita kenal, maka ini akan menciptakan jalan bagi perubahan pola berpikir, strategi, kepercayaan, kebiasaan, pengetahuan, metode, dan seterusnya. Mungkin, saking pentingnya peranan orang itu bagi kita, sampai-sampai ahli filsafat bisnis Amerika, Jim Rohn, mengatakan: "Jika buku yang anda baca dan orang yang anda ajak bergaul sama, maka dalam lima tahun ke depan, kemungkinan besar nasib anda masih sama". Untuk mengubahnya, sudah pasti membutuhkan modal, tetapi modal di sini tidak mutlak identik dengan uang yang banyak atau sejumlah modal yang saat ini tidak ada di tangan kita. Prakteknya sering membuktikan bahwa orang yang perlu masuk dalam daftar "jaringan" itu sudah disediakan Tuhan di sekeliling kita tetapi selama ini jarang kita perhatikan, jarang kita bedakan, jarang kita telaah, dan jarang kita gali.

Menjaga 3K

Menjalani hidup memang berbeda seribu derajat dengan membahas kehidupan. Dalam membahas kehidupan seperti dalam tulisan ini, enak saja kita mengganti, mengubah dan meng-audit langkah sekehendak kita, tetapi dalam menjalani, tentu saja tidak bisa kita meng-audit dan mengubah sekehendak kita. Hemat saya, ada sedikitnya tiga hal yang perlu dijaga seiring dengan keputusan kita untuk meng-audit dan memperbaharui langkah, yaitu:

1. Kebutuhan

Kata orang yang sudah sering kita dengar, kebutuhan itu tidak mengenal kata nanti, bahkan ampun pun tidak. Ungkapan lain mengatakan bahwa lebih enak ngomong sama orang yang marah ketimbang ngomong sama orang yang lapar. Ini semua menunjukkan bahwa kebutuhan itu tidak bisa diganggu-gugat dan karena itu, agenda apapun yang akan kita jalankan, hendaknya jangan sampai menganggu aktivitas kita dalam memenuhi kebutuhan. Atau dengan kata lain, hendaknya kita tetap menjalankan aktivitas yang sasarannya untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya tidak bisa diganggu-gugat di tengah-tengah kesibukan kita memikirkan tiga hal yang perlu diaudit di atas. Jika kebutuhan ini terancam, maka kita semua sudah tahu akibatnya.

2. Keinginan

Meskipun kebutuhan itu tidak mengenal ampun dan kata nanti, tetapi jika pikiran ini terlalu kita fokuskan hanya untuk kebutuhan, hanya apa adanya, tanpa visi, tanpa imajinasi, tanpa cita-cita, tanpa keinginan, maka Mohamad Ali mengibaratkan seperti seandainya bumi ini tanpa langit: kering dan gelap. Marylin King, mantan seorang atlet, menyimpulkan:


"Astronot, atlet dan eksekutif perusahaan memiliki tiga hal kembar. Mereka punya sesuatu yang sangat berarti bagi mereka; sesuat yang benar-benar ingin mereka lakukan. Kami menyebutnya gairah. Mereka memandang tujuan dengan sangat jelas dan mengimajinasikannya secara ajaib sehingga tampak begitu kuat dan mereka membayangkan dirinya menapaki langkah-langkah kecil dalam perjalanan menuju tujuan itu. Kami menyebutnya visi. Akhirnya mereka melakukan sesuatu setiap hari, sesuai dengan rencana yang akan membawa mereka selangkah lebih dekat ke mimpi mereka. Kami menyebutnya aksi".

Artinya, selain kita perlu memprogam aktivitas yang sasarannya kebutuhan, kita pun perlu memprogram aktivitas yang sasarannya adalah mewujudkan keinginan (visi, cita-cita, dst.) yang belum terwujud atau beru terwujud sebagian, agar tidak kering dan gelap (demotivator dan apatis), seperti bagaikan bumi tanpa langit, bagaikan burung tanpa sayap, bagaikan mobil yang rodanya terpendam lumpur "kebutuhan".

3. Kelancaran

Tak cukup sepertinya jika kita hanya memprogram aktivitas yang kita lakukan hari ini semata untuk sasaran kebutuhan dan keinginan. Ada satu hal lain yang perlu kita programkan, yaitu mengatasi masalah-masalah, entah itu tehnis, hubungan, dan lain-lain yang kedatangannya tidak diundang. Membiarkan masalah, bukan berarti menghilangkan masalah.Tetapi jika kita mengerahkan seluruh pikiran dan aktivitas kita hanya untuk mengurusi masalah, maka keinginan dan kebutuhan kita akan yatim, yang juga masalah.

Jadi, menurut nasehat Anthony Robbins, gunakan 10% saja untuk memikirkan masalah (what and why), lalu gunakan sisanya untuk memikirkan pemecahan masalah (how). Tenggelam dalam memikirkan masalah, justru malah akan membuat kita bermasalah. Nasehat lain bisa kita dengarkan dari Brian Tracy, seorang konsultan SDM, yang mengatakan: "Bukan dimana saat ini kita berada; yang menentukan kita, melainkan ke mana langkah ini akan kita gerakkan". Masalah tidak membuat kita keman-mana tetapi apa yang akan kita lakukan terhadap masalah itu akan menentukan di manan nanti kita berada.

Dengan belajar menjalani tiga hal di atas, minimal kita tidak perlu bertengkar dengan kenyataan yang ada di hadapan kita, pun juga kita tidak tenggelam di dalam kenyataan itu, serta tidak terhanyut ke dalam memikirkan masalah siang dan malam. Sekali lagi perlu kita ingat, ini baru membahas kehidupan, belum masalah menjalani kehidupan. Selamat menjalankan.

geo fles